Analisis Kimia Limbah B3 Untuk Menentukan Efisiensi Penghancuran Dalam Uji Bakar Di Insinerator

Idteknologi721
JudulAnalisis Kimia Limbah B3 Untuk Menentukan Efisiensi Penghancuran Dalam Uji Bakar Di Insinerator
AbstrakLimbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), Uji Bakar (TBT), Efisiensi Penghancuran (DRE)
KatakunciTeknologi Pengolahan Air Limbah
Kategori4
Mediamasahttp://www.kelair.bppt.go.id/Jtl/2012/vol13-2/06limbah.pdf
AlamatlinkKardono
Penuliskardono@bppt.go.id
InstansiSalah satu cara efektif mengurangi limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yaitu dengan membakarnya dalam insinerator. Berbagai keuntungan pembakaran limbah dalam insinerator mendorong usaha memanfaatkannya untuk menghacurkan limbah B3 di Indonesia. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup (Men-LH) no. 18/2009 memungkinkan orang mendapat ijin pengolahan limbah B3 melalui insinerator, tetapi berdasarkan Keputusan Kepala BAPEDAL No.: Kep-03/1995, mereka harus memenuhi persyaratan efisiensi penghancuran (DRE) sebesar 99,99% atau lebih, dan juga persyaratan lainnya. Pembuktian efisiensi penghancuran dilakukan melalui kegiatan uji bakar (TBT). Sebelum uji bakar dilakukan, analisis kimia limbah harus dilakukan di laboratorium. Senyawa yang paling sulit terbakar dalam uji bakar dapat dipilih berdasarkan nilai bakar senyawa dari hasil analisis tersebut. Dalam penelitian ini analisis kimia dari tiga jenis limbah B3, sarung tangan terkontaminasi, lumpur dari instalasi pengolahan limbah dan limbah infeksius rumah sakit, telah dilakukan. Hidrokarbon organic utama (POHC) yang dianalisis dari ketiga limbah ini adalah 1.1 Dichlorethylene, 1.1.1 Trichloroethylene dan Tetrachloroethylene dengan konsentrasi masing-masing sebesar 1.411, 0.311, dan 0.166 mg/kg. Hasil perhitungan indek panas pembakarannya masing-masing adalah 38.45, 57.78 and 84.20. Jadi, Tetrachloroethylene merupakan POHC yang paling sulit terbakar sehingga terpilih sebagai wakil semua POHC yang mungkin terkandung dalam limbah B3 tersebut dalam uji bakar. Sampling untuk emisi Tetrachloroethylene menggunakan metode baku US EPA No. 30. Dalam uji bakar disarankan untuk mengukur emisi partikulat, logam-logam berat, asam khlorida (HCl) dan gas-gas emisi lainnya ((O2, CO, CO2, laju alir gas emisi, kadar air gas) dengan metode sampling baku. Data-data ini dapat digunakan untuk melakukan koreksi dan membantu dalam perhitungan hasil sampling.
Email
Url
Keterangan