DAMPAK PAPARAN TIMBAL PADA KESEHATAN ANAK

Penulis: Ir. Lilis Marwiani, MAP., Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Madya, KLHK

Sebelum kita menyampaikan dampak paparan timbal, akan lebih baik kita mengenal terlebih dahulu tentang Timbal. Timbal atau Timah Hitam dalam Bahasa ilmiahnya dinamakan Plumbum merupakan kelompok logam dalam tabel sistim periodik merupakan kelompok logam-logam golongan IV-A dengan simbol Pb, mempunyai unsur atom (NA)82 dengan bobot atau berat atom (BA)207,2 gram/mol.

Timbal adalah unsur stabil bernomor atom tertinggi dan tiga di antara isotopnya adalah hasil akhir peluruhan berantai unsur-unsur yang lebih berat, merupakan bahan alami yang terdapat dalam kerak bumi, yang memiliki sifat fisik berupa logam yang lunak yang mudah dipotong dengan pisau atau tangan, mudah dibentuk, tahan terhadap korosi atau karat sehingga umumnya digunakan sebagai bahan pelapis anti karat, memiliki titik lebur yang rendah yaitu 327,5 °C, tidak baik sebagai penghantar listrik, memiliki kerapatan yang lebih besar dibandingkan logam-logam biasa kecuali emas dan merkuri. Timbal saat baru dipotong berwarna perak mengkilat kebiruan, tetapi jika terpapar udara permukaannya akan berubah menjadi warna abu-abu buram (Wikipedia, 2021).

Timbal diperoleh dari alam dilakukan dengan cara ditambang dari bijih mineral tertentu, hal ini telah dilakukan sejak zaman prasejarah di Asia Kecil, Galena merupakan bijih timbal yang masih mengandung campuran perak, banyak ditambang dan digunakan di Romawi Kuno, namun produksinya menurun sejak keruntuhan Romawi dan baru pada saat Revolusi Industri produksi timbal meningkat kembali seperti zaman Romawi. Pada 2014, produksi timbal dunia melebihi 10 juta ton per tahun, dan lebih dari setengahnya dihasilkan melalui daur ulang. Di Indonesia telah mengenal timbal dan penggunaannya sejak zaman kebudayaan Hindu-Buddhauntuk pembuatan artefak perunggu yang ditemukan pada zaman ini.

Di Sumatra dan Jawaditemukan kandungan timbal dengan kadar berkisar antara 1,22% sampai 17,43%.Terdapat pertambangantimbal di Sumatradengan menggunakan teknik peleburan seperti diMuara Sipongi, Sumatra Utara.

Proses untuk mendapatkan timbal dari alam.

Timbal di alam terutama terdapat sebagai galena (PbS), namun dapat juga didapat dari bijih yang lain karena akibat pengaruh iklim atau cuaca sehingga galena menjadi bentuk lain sebagai karbohidra, cerrusite (kerusit)–PbCO3, dan sebagai sulfat, anglesite (anglesit)–PbSO4. Dalam proses ekstraksi, bijih galena pada mulanya dipekatkan dengan teknik flotasibuih, selanjutnya sejumlah kwarsa, SiO2, ditambahkan, kemudian dilakukan proses pemanggangan terhadap campuran ini.

Adapun persamaan reaksi utama pada proses ini adalah sebagai berikut :

2 PbS (s) + 3 O2(g) → 2 PbO (s) + 2 SO2(g)

Kemudian proses reduksi dilaksanakan dengan batubara coke (C) dan air-kapur, dengan persamaan resksi utamnya sebagai berikut:

PbO (s) + C (s) → Pb (l) + CO (g)

PbO (s) + CO (g) → Pb (l) + CO2(g)

Maksud penambahan SiO2 sebelum proses pemanggangan dan penambahan air-kapur pada proses reduksi bahwa dalam proses pemanggangan dengan temperatur tinggi ada kemungkinan sebagian galena diubah menjadi PbSO4. Hadirnya kwarsa akan mengubah sulfat menjadi silikat menurut persamaan reaksi berikut ini:

PbSO4(s) + SiO2(s) → PbSiO3(s) + SO3(g)

Silikat ini dalam proses reduksi akan diubah oleh air-kapur, CaO, menjadi PbO (yang kemudian tereduksi oleh batubara) dan kalsium silikat sebagai kerak atau ampa, dengan persamaan reaksi sebagai berikut:

PbSiO3(s) + CaO (s) → PbO (s) + CaSiO3(s)

Alternatif lain pada proses reduksi yaitu pemakaian reduktor bijih bakar dari galena segar sebagai pengganti batubara (coke):

PbS (s) + 2 PbO (s) → 2 Pb (l) + SO2(g)

Sampai dengan tahap ini, logam timbal yang dihasilkan masih belum murni, masih mengandung banyak unsur pengotor mungkin tembaga, perak, zink, arsen, antimon, dan bismut. Oleh karena itu, perlu proses permunian yang meliputi beberapa tahap seperti sebagai berikut ini :

Pertama-tama, timbal hasil dilelehkan selama beberapa waktu pada temperatur dibawah titik leleh tembaga, sehingga tembaga pengotor akan mengkristal dan dapat dipisahkan. Tahap berikutnya, udara ditiupkan di atas permukaan lelehan timbal; maka, pengotor arsen dan antimon akan diubah menjadi arsenat dan antimonat atau oksidannya, termasuk bismut sebagai buih di atas permukaan yang dapat disendoki ke luar. Selanjutnya, kira-kira 1-2 % zink ditambahkan agar perak atau emas pengotor lelbih mudah larut dalam lelehan zink. Campuran kemudian didinginkan secara perlahan kira-kira dari 480 oC hingga 420 oC, yang berakibat logam perak dan emas akan terbawa dalam zink yang akan memngkristal lebih dulu, sehingga dapat dipisahkan dari lelehan timbal. Kelebihan zink, jika ada, dapat dipisahkan dengan teknik penyulingan hampa atau pada tekanan sangat rendah.

Pada pemurnian tahap akhir biasanya dilakukan dengan teknik elektrolisis menurut metode Betts. Proses ini memakai elektrolit larutan timbal heksafluorosilikat, PbSiF6 dan asamnya, H2SiF6. Lembaran-lembaran tebal timbal dipasang sebagai katode dan pelat-pelat timbal belum murni dipasang sebagai anode. Anode timbal akan mengalami oksidasi menjadi larutan Pb2+ yang kemudian akan tereduksi menjadi logam Pb dan melekat pada katode. Dengan proses demikian akan diperoleh timbal dengan kemurnian yang sangat tinggi, (99,9 %).

Gambar 1. Contoh Wujud timbal yang diperoleh dengan membekukan timbal cair, ukuran asli 1,5 x 2 cm (Wikipedia, dibuat 4 Maret 2016)

Pengaturan yang dilakukan oleh Pemerintah terhadap Timbal adalah pengaturan terhadap proses impor atau ekspor Timbal dalam bentuk bahan dengan CAS Number 7439-92-1, pengaturan impor dan ekspor B3 dilakukan melalui Registrasi dan/atau Notifikasi B3 sebagai B3 yang dapat diperdigunakan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun juga pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 36 tahun 2017 tentang Tata Cara Registrasi dan Notifikasi Bahan Berbahaya dan Beracun.

Registrasi B3 merupakan pendaftaran dan pemberian nomor terhadap B3 yang ada di wilayah Republik Indonesia yang wajib dilakukan oleh penghasil (produsen) dan atau pengimpor (importir). Registrasi B3 diberlakukan terhadap B3 yang dapat dipergunakan dan yang terbatas dipergunakan sebagaimana yang terdapat dalam lampiran PP 74 Tahun 2001. Dalam Registrasi B3 ini tidak mengatur penggunaan B3 dalam suatu produk dan B3 Campuran.

Sebagai informasi berdasar data laporan realisasi impor tahun 2020 bahwa Timbal diimpor ke Indonesia selama setahun berjumlah 2.866.186 Kg, ini sebagai Timbal murni dalam bentuk batangan diimpor oleh industri yang telah memiliki registrasi impor Timbal seperti industri baterai, industri kawat, industri pelapisan serta berbagai industri pengolahan logam dasar bukan besi juga diimpor oleh pelaku importir distributor.

Karena Timbal memiliki sifat fisik kepadatan yang tinggi, titik leleh rendah, mudah ditempa, dan tahan korosi maka banyak digunakan juga pada bermacam-macam kegiatan, peralatan dan beberapa campuran contohnya seperti digunakan sebagai :

1.Bahan pembuatan kabel telpon

2.Pembuatan Aki / Baterai

3.Pewarnaan cat

4.Pengkilapan dan pewarnaan dalam pembuatan keramik terutama untuk warna kuning dan merah

5.Bahan anti api

6.Aditive untuk bahan bakar kendaraan

7.Pelindung pipa ledeng, dan amunisi

8.Peredam suara

9.Pelindung radiasi pada sinar X dan reaktor nuklir

10.Insektisida

11.Industri plastic PVC untuk menutup kawat listrik.

12.Proyektil untuk alat tembak

13.Peralatan pancing untuk pemberat disebakan timbal memiliki densitas yang tinggi, harganya murah dan mudah untuk digunakan.

Namun, sejak abad ke-19, sifat racun timbal mulai ditemukan dan penggunaannya mulai dikurangi. Timbal dapat masuk tubuh manusia melalui makanan, minuman, serta udara atau debu yang tercemar..

Batasan usia anak

Untuk mengetahui batas usia anak sampai usia berapa, akan diambil berdasarkan beberapa referensi seperti dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan dari Undang-Undang Republik Indonesia adalah sebagai berikut :

Berdasar Konvensi Hak-Hak Anak yang disetujui oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 20 November 1989, Bagian 1 Pasal 1 yang dimaksud anak adalah orang yang berusia dibawah 18 tahun. Sedang di Indonesia mendifinisikan anak sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak pada Pasal 1 ayat 1 yang dimaksud Anakadalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Pembagian kelompok umur anak yang dipergunakan dalam program Kesehatan di Kementerian Kesehatan adalah sebagai berikut :

1.Bayi : umur 0 - < 1 tahun

2.Balita : umur 0 - < 5 tahun

3.Anak Balita : umur 1 - < 5 tahun

4.Anak Pra Sekolah : umur 5 - < 6 tahun

5.Anak Pra Remaja : umur 10 - < 13Tahun

6.Anak Remaja : umur 13 - < 18 tahun

7.Anak Usia Sekolah : umur 6 - < 18 tahun

Bagaimana masuknya Timbal kedalam tubuh

Walaupun timbal tidak diketahui memiliki fungsi khusus secara biologi, unsur ini sangat banyak ditemui dalam tubuh manusia. Kadar rata-rata timbal dalam tubuh manusia dewasa mencapai 120 mg, logam berat tertinggi ketiga setelah zat besi (4000 mg) dan seng (2500 mg). Garam-garam timbal diserap tubuh dengan mudah. Pada orang dewasa1% timbal disimpan dalam tulang dan sisanya dibuang melalui urin dan feses setelah beberapa minggu. Namun, pada anak hanya sepertiga timbal yang dibuang oleh tubuh dan pemaparan secara terus-menerus dapat menyebabkan bioakumulasi.

Timbal dapat masuk ke tubuh manusia dengan dihirup, ditelan, atau diserap kulit. Hampir semua timbal yang dihirup akan diserap tubuh, sedangkan timbal yang ditelan biasanya diserap sebesar 20–70%, dan anak menyerap lebih banyak dibanding orang dewasa.

Keracunan biasanya terjadi akibat makanan atau minuman yang terkontaminasi Timbal. Selain itu, kadang Timbal masuk karena tidak sengaja menelan tanah, debu, atau cat yang terkontaminasi Timbal. Air laut dapat mengandung Timbal jika dicemari limbah industri. Tanah dapat terkontaminasi melalui akumulasi partikel limbah dari pipa, cat, maupun emisi bahan bakar yang ditambahi aditif timbal. Buah dan sayuran juga dapat terkontaminasi jika tumbuh di tanah berkadar timbal tinggi.

Penggunaan pipa timbal dapat berbahaya di daerah dengan air asam atau air lunak. Air sadah membentuk lapisan pelindung pada permukaan pipa, sedangkan air asam atau lunak dapat melarutkan dan menyerap Timbal. Air yang berkarbondioksida dapat menyerap Timbal menjadi Timbal Bikarbonat (Pb(HCO3)2, air yang beroksigen juga dapat menyerap Timbal menjadi Timbal (II) Hidroksida. Meminum air yang terkontaminasi seperti ini dapat menyebabkan masalah kesehatan. Ini dapat dicegah jika air memiliki kesadahan tinggi, karena Kalsium karbonat dan Kalsium sulfat pada air sadah akan bereaksi dengan timbal membentuk Timbal Karbonat atau Timbal Sulfat yang melapisi permukaan pipa.

Cat yang mengandung Timbal dapat tertelan oleh anak-anak, misalnya ketika anak itu menjilat kusen atau bagian bangunan lain. Selain itu, ketika cat tersebut mulai terkelupas, partikelnya menjadi debu dan dapat menempel di mulut, makanan, atau minuman.

Timbal juga dapat masuk melalui hirupan, terutama pada perokok dan pekerja di sektor industri yang menggunakan Timbal. Isotop radioaktif timbal-210 (bersama racun-racun lain) sering ada dalam rokok, yang berasal dari jenis pupuk fosfat yang digunakan untuk pupuk tanaman tembakau. Penyerapan melalui kulit biasanya terjadi pada pekerjaan yang terdapat senyawa Timbal organik.

Angin juga merupakan salah satu media yang membawa Timbal dapat masuk ke dalam badan air yang berasal dari kegiatan/aktivitas kehidupan manusia, pada umumnya Timbal di perarian dalam bentuk ion divalent dan ion tetravalent (Pb2+, Pb4+) yang apabila jumlahnya melebihi konsentrasi baku mutu dapat mengakibatkan kematian biota perairan.

Timbal secara alamiah juga terdapat dalam air laut dengan konsentrasi kurang lebih 0,03 µg/L, di air sungai 3 µg/L, Adapun standar konsentrasi Timbal yang dalam air permukaan kelas 2 berdasar PP 22 Tahun 2021 pada Lampiran VI adalah 0,03 mg/L sedang air bersih sesuai Permenkes nomor 416/Menkes/Per/IX/1990 tentang Standar Kualitas Air Bersih dan Air Minum adalah batas maksimum yang diperbolehkan adalah 0,05 mg/L.

Dampak Paparan Timbal pada Anak

Paparan Timbal yang terus menerus dapat menyebabkan keracunan Timbal. Adapun gejala keracunan Timbal biasanya muncul saat kadar timbal di dalam tubuh sudah sangat tinggi. Berikut beberapa gejala keracunan timbal yang dapat dialami anak:

Mudah lesu akibat anemia;

Efek terhadap saraf (sistim syaraf pusat)

Ensepalopati (kelainan struktur atau fungsi otak akibat suatu kondisi atau penyakit)

1.Anemia

Timbal dapat menghambat enzim porfobilinogen sintase dan ferokelatase, sehingga mencegah terbentuknya porfobilinogen dan mengikatnya besi ke protoporfirin IX, yang merupakan tahap terakhir pembentukan molekul heme. Akibatnya, pembentukan heme dalam tubuh menjadi tidak efektif dan menyebabkan anemia mikrositik

2.Efek terhadap saraf (sistem saraf pusat)

Susunan saraf merupakan jaringan yang paling sensitif terhadap keracunan Timbal. Setelah pajanan tinggi dengan kadar Timbal dalam darah di atas 80 μg/dl dapat terjadi ensefalopati. Terjadi kerusakan pada arteriol dan kapiler yang mengakibatkan oedema (adanya cairan) otak, meningkatnya tekanan cairan serebrospinal, degenerasi neuron dan perkembangbiakan sel glia. Secara klinis keadaan ini disertai dengan menurunnya fungsi memori dan konsentrasi, depresi, sakit kepala, vertigo (pusing berputar-putar), tremor (Gerakan abnormal dengan frekuensi cepat), stupor (penurunan kesadaran ringan), koma, dan kejang-kejang.

3.Ensefalopati

Ensefalopati merupakan bentuk keracunan Timbal yang sangat buruk dengan sindrom gejala neurologis yang berat dan dapat berakhir dengan kerusakan otak atau kematian. Paling sering dijumpai pada anak atau orang yang mengkonsumsi makanan/minuman tercemar Timbal. Anak mempunyai resiko lebih besar terhadap paparan Timbal dari orang dewasa. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya perbedaan aktivitas metabolik internal.

Ensefalopati akut pada anak sangat dipengaruhi oleh jumlah partikel Timbal yang terhisap, lama pemaparan, dan faktor-faktor lain, yang ditandai dengan :

Perubahan perilaku mental,

Pelemahan pada daya ingat dan sulit untuk berkonsentrasi,

Hyperirritabel (hal yang sangat mengganggu),

Kegelisahan,

Depresi,

Sakit kepala,

Vertigo dan tremor

Ensefalopati akut berkembang hanya pada dosis yang besar dan jarang terjadi pada level Timbal dalam darah dibawah 100 μg/ 100 ml, pernah dilaporkan terjadi pada tingkat 70 μg/ 100ml.

4.Ganguan pendengaran

Kerusakan pada susunan saraf pusat dapat pula mengenai saraf kranial, kadar Timbal dalam darah 15 μg/dl dapat menyebabkan gangguan saraf pusat, pada kadar 1 – 18 μg/dl menyebabkan gangguan pendengaran. Beberapa penelitian pada anak dan dewasa memperlihatkan adanya hubungan paparan Timbal dengan penurunan pendengaran tipe sensorineural. Pada individu yang sensitif kadang-kadang didapatkan adanya efek yang memburuk pada sistem tubuh, tetapi secara klinis efek tersebut tidak jelas sampai dicapai kadar Timbal yang lebih tinggi lagi.

5.Gangguan terhadap ginjal

Keracunan berat Timbal dalam waktu lama akan menyebabkan penyakit renal progresif dan tidak dapat disembuhkan. Ada beberapa laporan berisi interstisial nephritis kronis pada pekerja sering disertai dengan hasil yang fatal. Kebersihan suatu industri akan mengurangi jumlah dan besarnya komplikasi renal pekerja yang keracunan akan tetapi anak-anak yang menghirup Timbal pada cat yang mengelupas dan konsumen yang mengkonsumsi makanan yang tercemar Timbal tetap mempunyai resiko. Nephropati yang ditandai oleh gangguan fungsi ginjal progresif sering disertai hipertensi. Kerusakan ginjal berupa fibriosis interstitialis kronis, degenerasi tubuler, dan perubahan vaskuler pada arteri kecil dan arteriol. Ditemukan gambaran khas, yaitu penuhnya badan inklusi intranuklear pada sel dinding tubulus. Badan inklusi merupakan kompleks protein Timbal yang kemudian di ekskresi melalui urine. Degenerasi tubulus proksimal mengakibatkan menurunnya reabsorbsi asam amino, glukosa, fosfat dan asam sitrat. Pada kasus yang berat dapat terjadi sindrom fanconi yaitu hiperamino uria (air kencing mengandung asam amino berlebihan glukosuria dan hipofosfat uria atau kadang-kadang hiperfosfat uria. Gangguan ginjal bersifat tidak menetap. Saturnine gout adalah sebuah pengurangan fungsi tubuler (ginjal tubulus glumerulus), Timbal berpengaruh pada ekskresi urates. Meskipun angka formasi normal, level asam uric disimpan dalam persendian, hampir menyerupai encok/ pegal.

6.Efek terhadap sistem cardiovascular

Pada keracunan Timbal akut dapat menderita colic yang disertai peningkatan tekanan darah. Kemungkinan timbulnya kerusakan miokard tidak dapat diabaikan. Perubahan elektro cardiografi dijumpai pada 70 % penderita dengan gejala umum berupa takikardia, disritmia atrium.

7.Efek terhadap sistem reproduksi

Telah diketahui bahwa Timbal dapat menyebabkan gangguan reproduksi baik pada perempuan maupun pada laki-laki, Timbal dapat menembus jaringan placenta sehingga menyebabkan kelainan pada janin. Peningkatan kasus infertil, abortus spontan, gangguan haid dan bayi lahir mati pada pekerja perempuan yang terpajan Timbal telah dilaporkan sejak abad 19, walaupun demikian data mengenai dosis dan efek Pb terhadap fungsi reproduksi perempuan sampai sekarang masih sedikit. Hubungan antara kadar Timbal dalam darah dan kelainan yang diakibatkan terhadap kelainan reproduksi perempuan adalah Kadar Timbal darah 10 μg/dl dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan. Kadar Timbal darah 30 μg/dl mengakibatkan kelainan prematur. Kadar Timbal darah 60 μg/dl mengakibatkan komplikasi kehamilan. Senyawa teratogen termasuk Timbal dapat menembus janin dan dapat mengganggu pertumbuhan mulai dari usia kehamilan pada minggu ke tiga hingga minggu ke 38. mulai minggu ke tiga hingga pertengahan minggu ke enam dapat mengganggu pertumbuhan susunan saraf pusat atau central nervous system (CNS), pada pertengahan minggu ke tiga sampai minggu ke enam dapat mengganggu pertumbuhan jantung, pada minggu ke empat hingga minggu ke delapan mengganggu pertumbuhan mata, lengan dan kaki, mulai pertengahan minggu ke enam sampai minggu ke delapan dapat mengganggu pertumbuhan gigi dan mulut, minggu ke Sembilan mengganggu pertumbuhan tekak (langit-langit, mulai minggu ke tujuh sampai ke 12 menggangu pertumbuhan alat kelamin bagian luar dan mulai minggu ke empat sampai minggu ke 12 mengganggu pertumbuhan pendengaran

8.Gangguan atau kerusakan otak

Gangguan pendengaran;

Gangguan terhadap ginjal;

Gangguan terhadap sistem cardiovascular;

Efek terhadap sistem reproduksi

Gangguan atau kerusakan otak;

Beberapa gangguan keracunan Timbal terhadap Kesehatan dapat dijelaskan secara rinci sebagai berikut :

Mengapa Timbal dapat menyebabkan kerusakan otak, hal ini karena Timbal dapat menggantikan posisi kalsium dalam darah dengan menembus sawar darah otak (bahasa Inggris: blood-brain barrier, BBB) adalah sebuah antar muka yang memisahkan zalir serebrospinal dengan pembuluh darah), lalu mengurangi dan merusak selubung mielin yang membungkus neuron, menggangu jalur pengiriman sinyal pada saraf, dan mengurangi pertumbuhan neuron. Dalam tubuh. Timbal menghambat enzim porfobilinogen sintase dan ferokelatase, sehingga mencegah terbentuknya porfobilinogen dan mengikatnya besi ke protoporfirin IX, yang merupakan tahap terakhir pembentukan molekul heme. Akibatnya, pembentukan heme dalam tubuh menjadi tidak efektif dan menyebabkan anemia mikrositik.

Timbal dapat mengganggu proses pembentukan sinapsis di korteks otak besar maupun pembentukan senyawa neurokimia serta saluran ion dalam otak anak yang sedang tumbuh. Pemaparan timbal pada anak kecil telah dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan tidur maupun kantuk di siang hari pada masa anak akhir. Kadar Timbal dalam kadar tinggi dalam darah anak perempuan dapat dikaitkan dengan terlambatnya pubertas.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), anak yang terkena keracunan timbal yang parah bisa mengalami keterbelakangan mental dan gangguan perilaku, disamping itu keracunan timbal juga dapat menyebabkan penurunan intelligence quotient (IQ), dan perubahan perilaku (meningkatkan risiko perilaku antisosial), memicu gangguan intelektual permanen, atau gangguan perkembangan otak, dalam kadar tinggi bisa menyebabkan kerusakan ginjal, kejang, hilang kesadaran, bahkan kematian. (Wikipedia Indonesia tentang Keracunan Timbal, diakses bulan September 2021)


Gambar 2. : Gejala-gejala keracunan Timbal (poster berbahasa Inggris dari

Beberapa upaya untuk membantu melindungi anak dari keracunan Timbal, diantaranya:

Berhati-hati dengan penggunaan pipa ledeng tua yang dilapisi timah. Jika masih memiliki sistem pipa yang menggunakan pipa tembaga dan solder timah, sebaiknya uji kandungan airnya dan sebaiknya diganti pipa dengan bahan lainnya misal PVC. Jika air tidak mengalir selama beberapa jam, biarkan air mengalir selama 30 detik sebelum menggunakannya. Perlu diketahui bahwa keran air panas menyerap lebih banyak timbal dari pada air dingin, jadi hindari menggunakannya untuk makan.

Sering-seringlah mencuci tangan dan mainan anak agar selalu dibersihkan permukaannya dari debu yang menempel dengan kain basah

Lepaskan sepatu sebelum memasuki rumah
Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko masuknya tanah yang mengandung Timbal ke dalam rumah.

Bersihkan debu dan kotoran dalam rumah, termasuk kamar mandi, secara rutin dengan menyapu, mengepel, dan mengelap perabotan rumah menggunakan kain basah.

Pastikan zat besi dan kalsium ada dalam makanan. Jika anak-anak terpapar Timbal, nutrisi yang baik yang dapat mengurangi jumlah Timbal yang diserap oleh tubuh mereka adalah dengan mengkonsumsi zat besi dan kalsium dibanding anak kurang mengkonsumsi ini maka timbal akan lebih banyak diserap oleh anak.

Pilihlah penggunaan Cat rumah tanpa kandungan timbal,halini dilakukan untuk mengurangi risiko pengendapan timbal dalam tubuh untuk jangka panjang.

Hindari anak bermain di jalan raya yang sibuk dan di bawah jembatan, karena terdapat konstruksi yang mungkin terkandung material dengan pelapisan Timbal.

(Halodoc Jakarta – September 2021 referensi dari Kids Health. Diakses pada 2019. Lead Poisoning. Dan Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Lead Poisoning).

Pengobatan keracunan Timbal

Keracunan Timbal jangka pendek biasanya ditangani dengan dimerkaprol dan asam dimerkaptosuksinat (DMSA), dan pada kasus keracunan yang lebih parah kadang diperlukan natrium kalsium edetat (natrium kalsium EDTA). EDTA lebih terikat pada timbal dibanding kalsium, sehingga dalam tubuh obat ini akan melepaskan kalsiumnya untuk diganti dengan timbal,

Obat ini disuntikkan ke dalam pembuluh darah atau otot sehingga bisa muncul rasa sakit di lokasi suntikan dan dapat menimbulkan efek samping pada masalah ginjal, diare, demam, sakit di otot dan tekanan darah rendah. Untuk pengguna yang sedang hamil, manfaat obat ini lebih besar dari pada risikonya. Natrium kalsium edetat tergolong dalam kelompok obat khelasi (obat yang dimasukkan pada intravena dengan menggunakan cairan). Obat ini terdiri dari garam edetat dengan dua atom natrium dan satu atom kalsium. Obat ini mengikat sejumlah logam berat agar dapat dikeluarkan dari tubuh lewat urin.

Natrium kalsium edetat mulai digunakan secara medis di Amerika Serikat pada tahun 1953. Obat ini termasuk dalam Daftar Obat-Obatan Esensial Organisasi Kesehatan Dunia. Di Amerika Serikat biayanya berkisar antara 50 hingga 100 USD. Edetat dinatrium merupakan formulasi lain yang tidak memiliki efek sama dengan obat ini. (Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, diakses September 2021, sumber "Edetate CalciumDisodium". The American Society ofHealth-SystemPharmacists. Diarsipkan dari versi asli tanggal 16 January 2017)

Pembatasan dan Pembersihan Timbal

Sejak 1980, negara-negara maju mulai mengurangi penggunaan Timbal untuk industri. Amerika Serikat mengeluarkan peraturan-peraturan untuk mengurangi atau menghilangkan penggunaan timbal pada produk selain baterai, termasuk bensin, cat, solder, dan sistem pipa air. Alat penangkap partikel dipasang pada pembangkit listrik tenaga batubara untuk mencegah emisi timbal.

Pada1992, KongresAmerikaSerikat memerintahkan EnvironmentalProtection Agencymengurangi kadar timbal darah pada anak-anak. Sedang Uni Eropa mengeluarkan Direktif RoHS yang membatasi penggunaan timbal.

Di Amerika Serikat, peraturan yang berlaku pada 2012 membatasi konsentasi timbal di tempat kerja menjadi maksimal 50 μg/m3 selama 8 jam kerja, dan kadar timbal darah dibatasi maksimal 5 μg per 100 g. Timbal dalam kadar berbahaya masih ditemukan pada tembikar, vinil, dan kuningan tertentu. Banyak negara maju telah melarang penjualan cat timbal putih (lihat Konvensi Cat Timbal Putih 1921), tetapi masih dipakai untuk pigmen kuning yang berbahan timbal kromat. Membersihkan cat timbal pada bangunan lama dapat melepaskan debu timbal yang mudah terhirup Beberapa negara mewajibkan penghilangan timbal di bangunan-bangunan yang ditinggali anak-anak.

Tiongkok, salah satu produsen cat terbesar dunia, membatasi kadar timbal pada cat interior bangunan, cat dekoratif, maupun cat mainan anak-anak. Batas maksimalnya adalah 90 ppm (bagian per sejuta) jika diekstraksi dengan reaksi asam standar, sebanding dengan kira-kira 600 ppm kadar timbal total. Namun, penelitian yang dilakukan lembaga antipencemaran IPEN serta Insight Explorer di akhir 2014 menunjukkan bahwa sekitar setengah dari sampel yang diteliti melebihi batas ini. Bahkan, 34% dari sampel memiliki kadar timbal total yang dianggap "sangat berbahaya", yaitu di atas 10.000 ppm.

Ilmuwan juga meneliti cara menghilangkan timbal secara biologi. Jamur Aspergillus versicolor mampu menyerap ion timbal yang terlarut dalam air limbah industri. Penelitian dilakukan terhadap berbagai bakteri yang diduga dapat membersihkan timbal dari lingkungan, di antaranya Desulfovibrio dan Desulfotomaculum; keduanya bersifat reduktor sulfat dan efektif dalam air. Tulang ikan juga saat ini diteliti sifat bioremediasinya pada timbal yang terkandung di tanah (Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, diakses September 2021).

Di Indonesia pengaturan untuk penggunaan Timbal dalam cat terdapat dalam standar SNI, yaitu padaSNI Nomor 8011:2014 untuk Cat dekoratif berbasis pelarut organik (solvent borne), standar ini menetapkan spesifikasi cat berbasis berbasis pelarut organik yang digunakan untuk keperluan pengecatan arsitektur yang bersifat dekoratif baik interior ataupun eksterior yang diatur kandungan logam-logam berat dan senyawanya yang diperbolehkan sebagai ikutan adalahsebagai berikut:

Hg < 60 mg/kg

Pb < 90 mg/kg

Cd < 75 mg/kg

Cr+6 < 60 mg/kg

Sedang SNI ISO 8124-3:2010 untuk mengatur kandungan Timbal pada mainan anak tidak diperbolehkan lebih dari 90 ppm

Daftar Pustaka / Referensi :

1.A, Denny. 2005. Deteksi Pencemaran Timah Hitamdalam Darah Masyarakat yang Terpajan Timbal (Plumbum). Jurnal Kesehatan Lingkungan. Volume 2. No. 1; 67 – 76.

2.Kasture, Dr A. V. (2008). Pharmaceutical Chemistry - I (dalam bahasa Inggris). Pragati Books Pvt. Ltd. hlm. 16.11. ISBN9788185790121. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-01-16.

3.WHO Model Formulary 2008 (PDF). World Health Organization. 2009. hlm. X. ISBN9789241547659. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 13 Desember 2016. Diakses tanggal 8 January 2017.

4.Anonim. 2012. Logam Berat Timbal. (Online). Unsoed.//Blogspot.Com/2012/10// Logam-Berat-Timbal.Pb.Html. Diakses Tanggal 15 Oktober 2012.

5.Hendra. 2012. Bahaya Bahan Toksik pada Timbal. (Online). http://city-selatiga.blogspot.com/2012/05/bahaya-bahan-toksik-pada-timbal-pb.html. Diakses Tanggal 16 Oktober 2012.

6.Reffiane, Fine, Dkk. 2012. Dampak Kandungan Timbal (Pb) Dalam Udara terhadap Kecerdasan Anak Sekolah Dasar. (Online). http://malihpeddas. blogspot.com/2012/02/dampak-ka... Diakses Tanggal 15 Oktober 2012.

7.Rusdi, Muhammad. 2012. Timbal (Pb). (Online). http://rusdhyrsc17.blogspot. com/2012/ 06/timbal-pb.html. Diakses Tanggal 16 oktober 2012.

8."WHO Model List of Essential Medicines (19th List)" (PDF). World Health Organization. April 2015. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 13 December 2016. Diakses tanggal 8 December 2016.

9."WHO Model List of Essential Medicines (19th List)" (PDF). World Health Organization. April 2015. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 13 December 2016. Diakses tanggal 8 December 2016.

10.Www.webmd.com. diakses pada 2019 tentang “What Is Lead Poisoning” diperbarui pada tanggal 2 September 2019 dalam Bahasa Indonesia “ Keracunan Timbal / Plumbum”

11.Wina Andria, disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu pada tanggal 4 Juni 2020 , tentang “Waspada Bahaya Keracunan Timbal Pada Anak, Fatal Dan Mematikan”

12.Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Diseases and Conditions. Lead Poisoning. WHO. Diakses pada 2020. Lead poisoning and health Web MD. Diakses pada 2020. What Is Lead Poisoning

13.Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas tentang Timbal, diakses tanggal 20 September 2021, Versi bahasa Inggris bertanggal 2018 dari artikel Boldyrev M, et al. (2018). "Lead: properties, history, and applications". WikiJournal of Science. 1 (1): 7. doi:10.15347/wjs/2018.007. telah melewati proses ulasan sejawat (di sini) dan telah dimuat dalam jurnal WikiJournal of Science.

Halodoc – Jakarta, 2021 dengan mengambil referensi dari Referensi: Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Diseases and Conditions. Lead Poisoning. WHO. Diakses pada 2020. Lead poisoning and health. Web MD. Diakses pada 2020. What Is Lead Poisoning?

B3 dan POPs klhk ditpb3 ditjenpslb3 bahan kimia Lead timbal

Views: 15684