KLHK Ajak Bali dan Nusa Tenggara Gunakan UNEP Toolkit untuk Mengurangi dan Menghapus Merkuri di Sektor Energi dan PESK

Bali, 1 Maret 2023 – Sebagai negara yang telah mengesahkan Konvensi Minamata, Indonesia memiliki kewajiban untuk memetakan kondisi nasional dan mengidentifikasi status implementasi pelaksanaan Konvensi Minamata melalui inventarisasi dan pemantauan merkuri di berbagai sumber/media lingkungan.

Hal tersebut mendasari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (cq. Direktorat Pengelolaan B3), bekerjasama dengan UNEP dan Basel and Stockholm Conventions Regional Centre for Southeast Asia (BSCRC-SEA), untuk menyelenggarakan Pelatihan Pengembangan Aliran Massa Merkuri (mercury mass flow development) kepada pemangku kepentingan terkait dengan memperkenalkan sumber Merkuri dan melakukan identifikasi aliran merkuri pada siklus hidupnya, khususnya di bidang prioritas energi dan Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK).

Pelatihan dilaksanakan selama 2 hari, pada tanggal 1–2 Maret 2023 di Hotel Mercure Kuta, Bali, dengan peserta yang berasal dari Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Bali dan Nusa Tenggara serta Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas ESDM Provinsi Bali, NTT, dan NTB. Acara dibuka oleh Ibu Yulia Suryanti, selaku Direktur Pengelolaan B3, KLHK.

Dalam sambutannya, Ibu Yulia menyampaikan bahwa penggunaan merkuri secara disengaja dapat ditemukan pada pertambangan emas skala kecil, termometer, tensimeter, dental amalgam, batu baterai, atau lampu dan bahkan pada kosmetik illegal. Merkuri sendiri bisa dihasilkan secara tidak sengaja dari penggunaan bahan baku di industri semen, industri non-ferous metal (timah hitam, seng, tembaga, dan emas industri), pembangkit listrik berbahan bakar batubara; fasilitas pembakaran sampah, dan lainnya.

"Melalui pelatihan ini saya berharap seluruh peserta dapat memahami manfaat dan bagaimaan cara menyusun aliran massa merkuri untuk mendukung peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam melakukan inventarisasi merkuri di wilayah masing-masing” pungkasnya.

Pelatihan ini memperkenalkan penggunaan UNEP Toolkit for Identification and Quantification of Mercury Releases dalam membuat aliran massa merkuri, dengan memberikan penjelasan mendalam mengenai sumber merkuri dan metode perhitungan aliran masukan (input) dan keluaran (output) merkuri.

Apabila sumber-sumber dan lepasan merkuri dapat diidentifikasi, maka harapannya sumber tersebut bisa dikurangi agar tidak membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan. Terutama dari sumber yang besar, misalnya di sektor PESK,” disampaikan Annisa Lutfiati (KLHK) saat memberikan materi Pengenalan UNEP Toolkit for Identification and Quantification of MercuryReleases. Toolkit ini terdiri dari Tookit Level 1 dan 2. Toolkit Level 2 lebih detail daripada ToolkitLevel 1 dan lebih menggambarkan kondisi aliran massa merkuri di tingkat nasional.

atan dibagi menjadi beberapa sesi dengan narasumber yang ahli di berbagai bidang, antara lain, Anandini Mayang (KESDM),Hernandi Alberto Octaviano (KESDM), Kania Dewi (Pakar dari ITB), Annisa Lutfiati (KLHK), dan Bayu Hendrawan (KLHK). Pesertaterlihat antusias dan aktif saat sesi tanya jawab dan diskusi.

Dihari kedua, peserta akan dibagi menjadi beberapa kelompok diskusi untuk mempraktikkan cara identifikasi sumber dan perhitunganlepasan Merkuri untuk kemudian mempresentasikannya. Setiap kelompok didampingi oleh satu fasilitator sebagai pendamping.

TD

Informasi lebih lanjut:
Direktorat Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun
Ditjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Telp/Fax : 021-85905639  

merkuri klhk b3 ditpb3 bahan kimia makemercuryhistory unep

Views: 491